Sejak kuliah Rahayu Widowati sudah tahu bahwa susu kedelai itu
bagus untuk kesehatan. Namun, waktu itu ia tak pernah
membayangkan akan mempunyai usaha sari kedelai.
''Sejak SMA saya punya keinginan untuk masuk kuliah di Fakultas
Pertanian, karena ingin meningkatkan kesejahteraan petani,''kata Bu Ade,
begitu wanita ini biasa disapa. Beruntunglah pada tahun 1982 dia diterima
di Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surakarta tanpa tes. Dalam waktu
3 tahun 10 bulan dia berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Tahun 1987, Ade langsung diangkat menjadi dosen negeri yang
diperbantukan di Akademi Pertanian Yogyakarta. Tahun 1988 ia menikah.
Selama hamil anak pertama, ia selalu minum susu kedelai yang dibeli di
tempat tetangganya. Namun, Ade hanya sebulan menjadi pelanggan sari
kedelai. Setelah itu, ia belajar membuat sari kedelai sendiri dari buku
teknologi tepat guna. Pada tahun 1991, ia mulai mencoba usaha susu sari
kedelai. Tapi, waktu itu rasa sari kedelainya masih agak langu. Kebetulan
pula loper yang mengantarkan sari kedelai berhenti karena menikah, usaha
Ade juga berhenti.
Pada tahun 1993 anak pertamanya, Tiara, sama sekali tidak mau minum
susu sapi. Si kecil hanya mau susu kedelai. Ade pun membuat susu sari
kedelai setiap hari. Dan, ia pun sudah tahu cara membuat sari kedelai yang
tidak beraroma langu.
Banyak rasa
''Saya pikir daripada membuat untuk sendiri, sekalian ada yang dijual biar
balik modal,'' kenang Ade tentang awal usahanya. Semula suaminya bahkan
sempat khawatir jika usahanya bakal menyedot perhatian yang seharusnya
dicurahkan untuk sang anak. Dalam perjalanannya, terbukti usaha Ade tak
mengurangi perhatiannya terhadap Tiara. Ia sendiri masih menjadi dosen
dengan status pegawai negeri sipil (PNS).
Alhasil, waktu kerja dari pukul 08.30-14.00 digunakan di kampus.
''Sepulang kerja saya mengurusi anak. Baru sore dan pagi hari saya mulai
sibuk untuk usaha,''tutur Ade yang pada 4 Desember 2005 mendapat
Piagam Bintang Satu Keamanan Pangan dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan.
Apa yang ia lakukan pada untuk usahanya? Sore hari ibu tiga anak ini
meracik dan membuat rasa sari kedelai hanya pada sore hari. Pagi hari
pukul 04.00-07.00 ia membuat resep, menimbang gula, untuk keesokan
harinya. Sedangkan pekerjaan lainnya seperti menggiling, mengolah kedelai,
membungkus, dan mendistribusikannya dilakukan oleh para karyawan.
Istri dosen Fakultas Teknik Universitas Atmjaya, Dr Ir Ade Lisanto MEng ini
mengaku dari usahanya, ia bisa untuk membeli peralatan pembuatan sari
kedelai seperti penggilingan (grinding) dan lain-lain, membeli motor untuk
mengantar sari kedelai ke pelanggan, dan bahkan mobil.
''Saya akui dari usaha sari kedelai hasilnya jauh lebih besar daripada gaji
saya. Padahal setiap bulan saya sudah mengeluarkan sekitar Rp 7 juta
untuk menggaji 13 orang,'' tuturnya sambil tersenyum.
Pada waktu memulai lagi usaha sari kedelainya (tahun 1996) dengan
dibantu dua orang pembantunya, Ade hanya membuat 30 bungkus tiap
harinya. Itu pun hanya untuk para pelanggan. Sampai sekarang ia hanya
memproduksi sari kedelai untuk para pelanggannya. Namun, produksinya
kini sekitar 1.500 bungkus. Bila ada sisa baru ia jual ke kantin di RS Panti
Rapih dan Kantin Universitas Atmajaya, atau kadang diberikan ke Panti
Asuhan.
Ade menyediakan 33 macam rasa yang sudah mendapat registrasi dari
Depkes. Yakni, mulai dari rasa melon, stroberi hingga temulawak. Dalam
waktu dekat ia akan membuat 50 macam rasa dengan perincian sebanyak
25 sari kedelai berserat rasa (esens) dan 25 sari kedelai berserat plus (rasa
asli). ''Maksudnya 'plus' misalnya rasa kacang ijo, benar-benar sari
kedelainya dicampur dengan rasa dari kacang ijo asli,'' jelas Ade yang
menjadi direktur Akademi Pertanian sejak 1997. Baru tanggal 17 Januari
2006 ia meletakkan jabatan sebagai direktur, karena akan mengambil
kuliah di Pasca Sarjana UGM.
Ingin menyehatkan
Karena ingin menyehatkan keluarga dan masyarakat dengan produk sari
kedelainya, lebih dari 10 rasa dibuat dari campuran tanaman obat antara
lain: pegagan, mengkudu, temulawak, kunyit, ginseng, jahe, mahkota dewa,
kunyit putih. Ade ingin memasukkan 50 macam rasa sari kedelainya ke
Museum Rekor Indonesia. Ia yakin belum ada produsen sari kedelai yang
sudah membuat sari kedelai dengan aneka rasa seperti yang dia buat.
Selain sebagai dosen agronomi, Ade juga sering memberikan ceramah dan
penyuluhan tentang manfaat dan cara pembuatan sari kedelai di wilayah
Yogyakarta dan Solo. Bahkan, ia pun bersedia datang ke pelosok pedesaan.
Dalam waktu dekat produk Adea akan dikemas dalam cup/kotak UV
supaya lebih steril. Meskipun demikian, dia tidak akan menaikkan harga
yaitu tetap Rp 1.500 per cup. Karena hal itu sebagai wujud kepeduliannya
terhadap keamanan, agar produknya lebih aman dan sehat dikonsumsi.
''Saya betul-betul mempunyai komitmen supaya produk saya aman
dikonsumsi dan kebersihannya terjamin. Apalagi sebagian besar konsumen
sari kedelai saya tenaga medis dan orang-orang yang tahun tentang gizi dan
keamanan pangan,''katanya.
Pada tahun 2004 ia mendapat juara I dan II Lomba Festival Minuman
Tradisional dan tahun 2005 juara I Lomba Festival Minuman Tradisional.
Waktu itu ia membuat minuman dari sari kedelai berupa Es Buah Campur
Sari Kedelai, Bajigur Sehat Sari Kedelai, dan Es Sarang Burung Fantasi dari
Kedelai.
Ade berkeinginan kelak produk minuman sehat sari kedelai 'Bu Ade'
mempunyai brand market. ''Sehingga nanti bila orang minum sari kedelai
yang dikenal Sari Kedelai 'Bu Ade','' tuturnya. Kini walaupun masih sedikit,
sari kedelainya sudah dikenal di Semarang, Jakarta, Kalimantan, Solo.
Nama : Ir Rahayu Widowati
Tempat/Tanggal: Sragen, 20 Juni 1963
Nama suami : Dr Ir Ade Lisanto MEng.
Nama Anak : E Tiara Duta Pratiwi (17 tahun),
Y Onni Satrio A (15 tahun),
Y Nindita Putri P (14 tahun)
Nama Usaha : Minuman Sehat Alami Sari Kedelai Bu Ade
Alamat : Jl Panuluh 379 A, Yogyakarta.
(nri )
Sumber : http://www.republika.co.id/Koran » Wanita - Minggu, 22 Januari 2006